Para menteri luar negeri dari Iran, Turki, dan Brasil bertemu di Istanbul, Turki, Minggu (25/7/2010), untuk membahas pelaksanaan kesepakatan pertukaran nuklir segitiga yang ditandatangani pada bulan Mei lalu. Negara-negara Barat curiga bahwa Iran berusaha membangun senjata nuklir di balik kedok pembangkit listrik tenaga nuklir untuk sipil.
Amerika Serikat adalah negara Barat yang berdiri di garda terdepan dalam menentang keberadaan nuklir Iran. Bahkan tidak hanya Iran, negara-negara lain pun ditentangnya, seperti Korea Utara. Iran dan Korea Utara merupakan contoh negara pemilik nuklir dan tidak sepaham dengan AS. Mereka begitu dimusuhi oleh AS, bahkan diperlakukan semena-mena di dalam dunia internasional. AS dan sekutunya beralasan jika kedua negara ini dibiarkan mengembangkan tenaga nuklir, akan mengganggu keamanan dunia.
Menurut saya, jika AS dan negara-negara lain ingin dunia ini aman maka nuklirlah alat pengamannya. Dengan cara setiap negara bebas memiliki nuklir. Menurut Deterrence Theory, jika setiap negara memiliki nuklir maka akan terjadi balance of power. Dari teori tersebut jelas sekali bahwa keamanan dunia ini akan berjalan dengan baik jika seluruh negara, tanpa terkecuali, memiliki nuklir. Perang tidak akan pernah terjadi jika semua negara memiliki nuklir.
Hal ini bukan tanpa alasan. Melainkan dengan nuklir, Korea Utara yang sangat bermusuhan kepada AS, tidak pernah terjadi perang di antara kedua negara ini. Begitu jelas permusuhannya. Namun, nuklirlah yang menghalangi mereka perang.
No comments:
Post a Comment