Sekitar dua minggu yang lalu, tepatnya pada hari Senin, 2 Mei 2011 (atau Minggu, 1 Mei 2011 waktu Amerika Serikat), terjadi sebuah “peristiwa besar” yang menyita perhatian ratusan juta penduduk AS dan milyaran penduduk dunia lainnya. “Peristiwa besar” tersebut adalah tewasnya Osama bin Laden dalam sebuah penyergapan yang dilakukan oleh pasukan operasi khusus AS di Abbottabad, Pakistan. Osama adalah pemimpin Al-Qaeda, suatu kelompok militan yang disebut-sebut sebagai organisasi teroris yang paling bertanggung jawab atas peristiwa 9/11 sepuluh tahun lalu.
Pada tanggal 2 Mei itu, Osama dikabarkan tewas tertembak di dada dan kepalanya dalam sebuah operasi penyergapan yang dilaksanakan oleh pasukan operasi khusus AS. Penyergapan itu kabarnya dipersiapkan dari Afghanistan, kemudian dijalankan di lokasi yang menjadi tempat persembunyian Osama di Abbottabad. Setelah penyergapan berhasil dilakukan, pasukan AS membawa jasadnya ke Afghanistan untuk diidentifikasi sebelum akhirnya membuang jasad tersebut di laut. Sekitar empat hari setelah kejadian tersebut, Al-Qaeda mengkonfirmasikan kematian Osama melalui beberapa website mereka dan bersumpah akan menuntut balas atas kematian pemimpin mereka tersebut.
Penuh Kejanggalan
Akan tetapi, tewasnya Osama tersebut menyisakan tanda tanya besar. Banyak kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Selain itu, ada pula kesan bahwa peristiwa tersebut sengaja direkayasa. Kejanggalan-kejanggalan tersebut di antaranya dibuangnya jasad orang yang disebut-sebut sebagai Osama di laut; keputusan untuk tidak merilis bukti-bukti tewasnya Osama dalam bentuk foto; laporan resmi penyergapan yang seringkali berubah-ubah, bahkan bertentangan dengan pernyataan-pernyataan yang dirilis sebelumnya; dan terputusnya siaran langsung penyergapan secara tiba-tiba.
Pada tahun 2007 lalu, mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto dalam wawancaranya dengan David Frost di Al Jazeera English bahkan dengan yakin menyatakan bahwa Osama telah dibunuh beberapa tahun lalu oleh Omar Sheikh, pimpinan Harkat-ul-Mujahideen yang juga merupakan mitra Taliban dan Osama. Sementara itu setelah peristiwa 2 Mei lalu, aktivis antiperang Cindy Sheehan berpendapat, “If you believe the newest death of Osama bin Laden, you’re stupid.” Menurut Sheehan, satu-satunya bukti yang menyatakan orang yang terbunuh itu ialah Osama adalah pernyataan Presiden Barack Obama bahwa terdapat kecocokan DNA antara orang yang tewas terbunuh oleh pasukan khusus Navy SEAL dan Osama bin Laden. Tambahnya, mustahil untuk memperoleh hasil tes DNA dengan begitu cepat, kecuali bila mereka memiliki DNA Osama yang disimpan di suatu laboratorium.
Di samping itu, kelompok Taliban, yang berbasis di Afghanistan, dalam pernyataan resminya tidak mengakui tewasnya Osama. Sebagaimana kita ketahui, Taliban memiliki hubungan dengan Osama dan Al-Qaeda. Dalam pernyataan resminya, Taliban menyatakan bahwa kurangnya rekaman peristiwa tersebut merupakan hal yang mencurigakan mengingat sumber-sumber Taliban yang dekat dengan Osama belum mengkonfirmasikan kematiannya, sementara pada saat membunuh kepala komandan militer Taliban, AS merilis rekamannya kepada publik.
Berbagai kejanggalan itu memunculkan berbagai teori konspirasi. Ada teori konspirasi yang menyebut orang nomor dua di Al-Qaeda, Ayman Al-Zawahiri sengaja membiarkan AS mendeteksi keberadaan Osama sehingga Osama tumbang dan kendali atas Al-Qaeda dapat berpindah kepada faksi Mesir. Menurut surat kabar Arab Saudi Al Watan, kurir Osama yang turut tertembak sesungguhnya ialah orang Al-Zawahiri yang disusupkan. Ia sebenarnya mengetahui dirinya terendus intelijen AS, namun berpura-pura tidak tahu agar dapat menuntun AS menuju tempat persembunyian Osama. Menurut Al Watan pula, Al-Zawahiri yang membujuk Osama keluar dari persembunyiannya di perbatasan Afghanistan-Pakistan dan beralih ke Abbottabad yang hanya dua jam perjalanan jauhnya dari Islamabad, ibukota Pakistan. Padahal Osama sebenarnya aman di persembunyian sebelumnya karena wilayah tersebut dikuasai oleh Taliban. Dan hal itu juga berarti bahwa AS bisa jadi telah mengetahui keberadaan Osama jauh sebelum penyergapan itu berlangsung.
Political Timing
Akan tetapi, apapun kisah di balik peristiwa itu, keadaan yang melingkupi kematian Osama berikut pengaturan timing-nya tampaknya hanya dapat dijelaskan dengan satu kata: POLITIK. Secara “kebetulan”, Obama sedang akan menggalang dana untuk pencalonannya kembali pada pemilihan umum presiden tahun depan dan sebelum peristiwa tewasnya Osama ini, citra Obama di dalam negeri sedang menurun. Bulan lalu, berdasarkan polling Reuters/Ipsos sebagaimana dikutip The Guardian, Obama hanya dianggap sebagai pemimpin yang kuat oleh 17% penduduk AS, 48% menyebutnya sebagai pemimpin yang terlalu berhati-hati, dan 36% lainnya menyatakannya sebagai pemimpin yang tidak mampu mengambil keputusan. Masih pada bulan yang sama, hasil polling Rasmussen Report menunjukkan bahwa sebanyak 49% responden tidak setuju dengan kepemimpinan Obama. Itu adalah angka terendah sejak ia menjabat sebagai presiden.
Selain itu, sebelum peristiwa tewasnya Osama, Obama juga mendapatkan berbagai “serangan” dari kubu Republikan, di antaranya dari multimilyuner Donald Trump. Trump secara gamblang menyatakan keraguannya atas keaslian akte kelahiran Obama. Konstitusi AS mewajibkan seorang kepala negaranya dilahirkan sebagai warga negara AS. Dan sebagian Republikan menuduhnya dilahirkan di negara asal ayah kandungnya, yaitu Kenya. Opini tersebut tak pelak membuat 45% pendukung Partai Republik yakin Obama tidak lahir di AS. Pengumuman tewasnya Osama secara “kebetulan” juga bersamaan dengan waktu tayang Celebrity Apprentice di mana Trump merupakan executive producer-nya. Akibatnya, acara tersebut tidak jadi disiarkan seakan-akan untuk “menghukum” Trump yang mempertanyakan keaslian akte kelahiran Obama ke publik.
Dengan tewasnya Osama, sebagian besar publik AS akan memandang Obama sebagai pahlawan. Bagi mayoritas penduduk AS, Osama memiliki arti penting karena ia dipercaya sebagai dalang serangan teror 9/11 yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Kasus penyergapan Osama menjadi pertaruhan besar Obama yang dipastikan akan kembali mencalonkan diri. Tewasnya Osama sungguh datang di saat yang sangat tepat bagi Obama, yaitu pada saat popularitasnya anjlok dan dianggap sebagai pemimpin yang lemah. Dengan tewasnya Osama, Obama seakan-akan membuktikan bahwa ia mampu memenuhi janji kampanyenya di mana ia secara tegas menyatakan akan menangkap atau melenyapkan Osama. Dengan demikian, popularitasnya kembali melonjak. Bahkan apabila pemilihan umum presiden AS digelar pada saat-saat seperti ini, dapat dipastikan Obama akan melenggang mulus tanpa pesaing.
Hal lain yang menjadi penting bagi Obama dari tewasnya Osama adalah Obama setidaknya dapat memiliki legitimasi untuk mengakhiri perang di Afghanistan dan Irak sebab anggaran pertahanan AS semakin menipis. Maka dengan terbunuhnya orang yang dianggap sebagai dalang utama serangan teror 9/11, tujuan utama pendudukan di Afghanistan telah tercapai, terlepas dari masih adanya penerus-penerus Osama di Al-Qaeda maupun kelompok-kelompok lain yang berafiliasi ke sana.
Meskipun demikian, kasus tewasnya Osama juga dapat menjadi “senjata makan tuan” bagi Obama jika pada suatu saat aroma rekayasa tercium begitu tajam. Kita tentu ingat bagaimana George W Bush berusaha meyakinkan masyarakat internasional bahwa rezim Saddam Hussein merupakan ancaman bagi keamanan internasional karena mengembangkan senjata pemusnah massal. Dan kemudian ancaman itu tidak terbukti sama sekali. AS memang selalu berusaha untuk mempertegas hegemoninya di dunia. Setelah runtuhnya Uni Soviet, praktis musuh baru diciptakan untuk tujuan ini, yakni dunia Islam sebagaimana kita lihat sampai saat ini. Setelah ini, yang berpotensi untuk dijadikan sebagai musuh berikutnya ialah China mengingat dalam beberapa tahun ini perkembangan negara tersebut sangat pesat, tak hanya dalam bidang ekonomi tetapi juga dalam bidang militer.
No comments:
Post a Comment